Sejarah Kampung

Sejarah terbentuknya Kampung Lobang Kelatak berawal dari Kerajaan Sungai Raya Kutai Timur yang memiliki penduduk sekitar 1.000 orang terhitung dari tahun 1880, lamanya ±140 tahun yang lalu. Pada zaman Kerjaan Sungai Raya di pimpin oleh Raja ARYAH BULU DADA berserta seorang Hulubalang (Prajurit) bernama Kapitan Bara. Kapitan Bara terbagi menjadi dua lagi yaitu Kapitan Merah dan Kapitan Putih. Raja Aryah Bulu Dada terkenal kehebatannya yang memiliki ilmu Kebal terhadap benda tajam dan memiliki ilmu menghilang atau tidak bisa dilihat kasat mata olah manusia.

Pada zaman Raja Aryah Bulu Dada, Jepang dan Belanda masih menjajah Indonesia daerah Kutai Timur Kerajaan Sungai Raya yang bertujuan merebut orang- orang yang ada di Sungai Raya untuk dilatih dan dijadikan pasukan yang bernama “Pasukan Tarikan Suka Rela” umur yang dicari 25-30 tahun. Tetapi, para orang tua tidak mengizinkan anaknya ikut dengan Jepang atau Belanda sehingga mereka selalu dicari-cari oleh Negara penjajah, akhirnya pada siang hari orang-orang bersembunyi di goa-goa dan pada malam hari mereka keluar goa untuk memasak dan makan.

Pada tahun 1890 Kerajaan Sungai Raya berpencar-pencar membentuk perkampungan menjadi 10 kampung yang terdiri dari :

NoNamaKampungNamaPembakal(Kepala Kampung)TahunMenjabat
1Kampung Sungai ManubarNenek Moyang Lincang1890-1910
2Kampung Sungai NahibungNenek Moyang Lincang1890-1910
3Kampung RijangNenek Moyang Lincang1890-1910
4Kampung Sungai RayaNenek Moyang Rawit1890-1910
5Kampung Tulong SidahanNenek Moyang Rawit1890-1910
6Kampung Pulau LangsatNenek Mounan1910-1920
7Kampung Sungai NiungNenek Tingulun1920-1930
8Kampung Tulong BatangNenek Limbuyak1920-1930
9Kampung Liung/KupingNenek Pilang1930-1950
10Kampung Lobang KelatakNenek Akat1930-1950

Pada masa kepemimpinan pembakalNenekKerangkingditahun1950-1957dengan masa jabatan ±17 tahun, nama Kampung Lobang Kelatak berubah menjadi Kampung Tuakan. Pada saat itu jabatan pembakal diwariskan kepada PembekalNenekRimbakdengan masa jabatan ±10 tahun dari tahun 1967-1977 nama Kampung Lobang Kelatak berubah lagi menjadi nama Kampung Lobang Kelatak.

Setelah itu jabatan pembakal berubah nama jadi Kades (Kepala Desa) pada masa jabatan KadesKasrantahun 1977-1990, KadesMisikantahun 1990-1993, KadesSinna1993-2000, KadesSolemanTandiSalutahun 2000-2014. Memasuki tahun 2014 nama Kades (Kepala Desa) berubah kembali menjadi Kepala Kampung yang diduduki oleh HeriSusilodengan masa jabatan dari tahun 2014-2019, kemudian memasuki dua periode jabatan masih diperoleh oleh HeriSusilodari tahun 2020-2025.

Jadi, Kampung Lobang Kelatak terbentuk pada Tahun 1930 Bulan Mei pada masa pembakal Nenek Akat yang memimpin sampai tahun 1950. Asal Muasal kata Kampung Lobang Kelatak berasal dari Kata kiam (Lobang)/Mahawang (Getakan Batu) dan banyak hewan Bidawang/Labi-labi, bahasa dayaknya (Kalata) Nama latinnya Felodiscus Sinensus yang banyak terdapat di Sungai Kakawan. Atas kesepakan bersama dinamakanlah Kampung ini Lobang Kalata, ketika yang menjabat pemerintahan orang Banua jadilah mereka menyebut KataLobangKelatak.

Pernah terjadi sebuah kejadian yang berasal kesalahan menulis surat menyurat dari kecamatan Talisayan untuk kampung-kampung, Tertulislah tujuan surat untuk Ampen Medang (Sepinang), Ampen Medang (Lobang Kelatak). Pihak Pemerintahan mengira Sepinang dan Lobang Kelatak satu Kampung beda Dusun (Rukun Retangga). Setelah diketahui adanya kesalahan barulah dirubah kembali menjadi Kampung Lobang Kelatak yang sudah disepakati bersama.

Pada saat terbentuknya Kampung Lobang Kelatak, masyarakat berbondong- bondong memeriahkan pesta panen yang dinamakan Gosokan (Buang Panas) yang dilaksanakan dengan beramai-ramai berjualan sepanjang jalan selama 2 minggu disertai bebalian dikomando oleh dukun dan tenaga ahli dayak basab. Selama pelaksanaan acara gosokan, orang-orang Kampung Ampen Medang, Batu Putih, Kelendakan, Tembudan, Tulong Batang dan Kampung lain juga ikut berpastisipasi memeriahkan acara Kampung Lobang Kelatak.

Bahasa yang digunakan pada saat itu adalaah bahasa Dayak Basab, setelah itu ada sekelompok musafir datang menggunakan bahasa Indonesia, tetapi orang dayak menyebut bahasa Indonesia adalah bahasa Islam. Kemudian di tahun 70 an barulah terbagi bermacam ragam suku Bangsa, dari suku Jawa, Bugis, Kaili, Mandar, Bajau, Cina dan suku-suku yang ada sekarang ini

Bagikan:
Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kabar Lainnya